Pangkalanbaru, _Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi pemerintah provinsi kepulauan Bangka Belitung melakukan pembekalan terhadap beberapa unsur perwakilan dari masyarakat untuk bertugas sebagai tenaga pendamping bagi masyarakat, dalam rangka peningkatan kapasitas pendamping lapangan dan perluasan kesempatan kerja, program penempatan dan perluasan kesempatan kerja (PPKK) beberapa waktu lalu.

Menurut Kepala Disnakertrans Babel, Didik Suprapto, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam mengawali transformasi desa ke arah yang lebih baik dan maju sebagai implementasi persoalan ketenagakerjaan sangat erat terkait persoalan kemiskinan, dimana perluasan kesempatan kerja merupakan salah satu upaya strategis untuk memutus rantai kemiskinan, terlebih dengan karakteristik perkotaan – perdesaan, pesisir – non pesisir serta tersebar hingga ke daerah terpencil.

Dengan adanya kehadiran tim pendamping lapangan dan perluasan kesempatan kerja diharapkan dapat maksimal sebagai penyediaan tenaga kerja dan mampu mendekati kebutuhan dunia usaha yang terus berkembang. Untuk ini maka diperlukan sebuah strategi ketenagakerjaan, dalam hal ini adalah strategi penempatan tenaga kerja, yang lebih optimal,  dapat memberikan akselerasi pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan ketenagakerjaan guna mendorong terwujudnya masyarakat pekerja yang maju, kuat, mandiri, demokratis dan sejahtera, ujar Didik.

Saat ini telah terbentuk sejumlah 15 personil tenaga program penempatan dan perluasan kesempatan kerja (PPKK) untuk ditempatkan di sejumlah lokasi di Bangka Belitung  . Mereka mengemban misi dalam pendampingan untuk program perluasan penempatan tenaga kerja dengan melatih dan memperkuat pengetahuan dan skill, sehingga mampu dalam menerjemahkan cita-cita UU Desa kedalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, Ujar Kabid Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans, Yanti Trisna,SH

strategi pengembangan ekonomi daerah perlu diperbaiki agar pada akhirnya mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja dengan penyediaan tenaga kerja harus mampu mendekati kebutuhan dunia usaha yang terus berkembang. Untuk ini maka diperlukan sebuah strategi ketenagakerjaan, dalam hal ini adalah strategi penempatan tenaga kerja, yang lebih optimal, ujar Yanti.

Sebagaimana penuturan Kepala Disnakertrans Babel, Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan RI menegaskan empat point strategi  penempatan tenaga kerja di masa datang dihadapkan pada lingkungan baik internal maupun eksternal yang dinamis. Beberapa isu yang dihadapi adalah  Reformasi politik dan kebijakan pembangunan nasional yang menuntut penerapan yang lebih nyata dan luas terhadap good governance, terutama pada penerapan otonomi daerah dan peng arusutama an gender.

Kemudian globalisasi ekonomi yang berpengaruh terhadap perkembangan pasar kerja baik di dalam  negeri maupun di luar negeri yang berdampak pada prospek kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja, Perubahan komposisi lapangan kerja industri dan jabatan dalam dunia kerja, perubahan teknologi di dalam tempat kerja dan restrukturisasi perusahaan, termasuk perubahan kebutuhan tenaga kerja, dan  Terdapat kebutuhan untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja, dimana diharapkan struktur angkatan kerja dapat bergeser, yang semula didominasi oleh tenaga kerja berpendidikan rendah, akan bergeser ke tenaga kerja yang berpendidikan menengah dan atas, imbuh nya.

Untuk itu maka pertama yang harus dilakukan adalah menajamkan kembali visi dan misi pembinaan penempatan kerja sesuai dengan konteks kekinian maupun perkiraan dinamika ke depan dan masukan dari para stakeholder terkait dengan ketenagakerjaan sangat diperlukan dalam rangka penajaman visi dan misi pembinaan penempatan tenaga kerja ini, tegas Didik. (js)